Selasa, 04 September 2012

Tentang Burung Kecil




Siang itu saya melihat gio ada dibelakang rumah
dibawah pohon.dia terlihat begitu serius,sampai tidak menyadari kedatangan saya
"sedang apa gio?" tanya saya
"melihata anak burung kakak,dia jatuh dari pohon itu" jawab gio sambil menoleh
lalu ia berkonsenterasilagi  dengan anak burung tersebut
saat gio mengangkat anak burung itu nampak tidak berdaya
"mau kamu apakan anak burung itu?" tanya ku penasaran
"mau saya kembalikan kesarangnya" jawab gio sambil menengandah menatap dahan pohon
saya mengikutinya namun tak saya temukan satupun sarang burung dipohon tersebut
agak membingungkan memang jatuh darimana burung tersebut?
"tidak ada gio,jadi bagaimana?"
"kasihan dia seharusnya dia bersama mama papanya" dio menatap anak burung ditangannya dengan iba
saya masih diam dan menunggu dio, mengambil keputusan untuk burung kecil itu
"kalau saya peihara burung ini bagaimana kak?" tanya dio padaku wajahnya terlihat ceria karena baru saja menemukan ide cemerlang
"apa kamu yakin kamu akan memeliharanya dengan baik?" tanyaku
"yakin" kata dio sambil mengangguk tegas
"kenapa kamu mau memelihara burung tersebut?"
"karena burung itu seperrti saya hidup tanpa ada mama dan papa"
saya termenung,gio memang anak sebatang kara ayah dan ibunya sudah meninggal sekarang dia tinggal bersama keluarga tantenya
"kamu bakal apakan dia?"
"akan saya beri dia tempat tidur kakak"
"lalu?"
"saya beri makan dan minuman"
"kamu dapat darimana tempat tidur makanan dan minuman itu?"
"tempat tidur akan saya buat,kalau makan dan minuman akan saya beri dari makanan saya" jawabnya yakin
saya kenal dio dan saya yakin dia akan bertanggung jawab dengan hal itu
dio sangat berhati-hati membawa burung tersebut kedalam rumahnya,tak berapa lama dia keluar dengan mambawa kotak sepatu
dio mengisi kotak sepatu tersebut dengan kain-kain perca,lalu meletakan burung tersebut dengan hati-hati,memberinya minum dan makan
saya berpikir berapa lama burung ini akan bertahan tanpa merasa bosan.
gio merawat burung tersebut tanpa lelah seminggu,dua minngu,tiga minggu,bahkan sudah lebih sebulan burung itu bersamanya
lambat laun burung itu semakin kuat san besar .
sampai suatu saat ,dibulan ke tiga burung itu sudah bisa mengepakan sayapnya
burung kecil itu adalah burung liar yang mungkin akan lebih senang hidup bebas diluaran daripada didalam sangkar
beberapa kali dio melihat burung itu hendak terbang namun selalu di tangkap lagi oleh dio dan di masukan sangkar lagi
"saya tidak mau burung itu pergi kakak"
"mengapa?"
"karena saya menyayanginya"
"bagaimana jika burung tersebut lebih senang terbang bebas diluar?"
"tidak burung itu pasti lebih suka disini bersama saya"
saya tersenyum mendengar jawaban gio.konsep menyayangi yang ada didalam benak gio sama dengan
konsep menyayangi oleh orang banyak,mengasihi dengan egois tanpa memikirkan bahwa makhluk yang dikasihinya itu
bukan benda mati,tetapi makhluk yang memiliki kehendak bebas
saya perhatikan gio membuat sangkar burung itu senyaman mungkin supaya si burung nyaman dan betah
tinggal didalamnya mungkin begitu pikir gio
beberapa waktu  kemudian si burung  terlihat berubah,dia tidak mau makan dan minum
terlihat malas bergerak ,semakin hari semakin memburuk sampai suatu saat
siburung terkapar dalam sangkarnya
"kakak sepertinya kakak benar"katanya saat itu setelah selesai kami mengguburkan burung
"kenapa?"
"mungkin seharusnya burung itu saya lepas mungkin dia lebih suka terbang bebas"
saya merangkulnya kesedihan sangat nampak diwajah gio.namun setidaknya dia sudah belajar satu hal
bahwa mengasihi tidak selalu melakukan apa yang dipikir baik oleh diri sendiri,tetapi melakukan hal
yang terbaik untuk orang yang dikasihi"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Gado -Gado